Badai Hijab Formalitas

Posted: 30 March 2013 in materi

DewiKeadilan

Maraknya asumsi hijab pada media massa maupun sosial media, menjadikan hijab permasalahan sensitif yang tak pernah dingin. Banyak masyarakat baik ulama telah menjadikan kebenaran mutlak (hijab) sebagai bahan perselisihan kebenaran relatif. Inilah awal timbulnya badai yang melanda hijab bagi wanita muslim, khususnya pelajar. Hakikat hijab sebagai baju kurung yang lapang dan dapat menutup kepala dan dada, seakan terusir dalam pergaulan remaja wanita masa kini. Kita tidak tahu makna berhijab bahkan tujuan kita memakai hijab, sehingga hijab sekedar ajang formalitas semata.

Padahal, pentingnya kewajiban wanita memakai hijab terurai jelas pada berbagai kitab suci. Salah satunya, kitab injil dalam korintus ayat 5-13 yang menganjurkan wanita menutup auratnya. Kemudian Allah SWT mempertegas kembali dalam Al-Qur’an sebagai penyempurna kitab terdahulu. “ Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min, ’Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka’. Yang demikian itu agar mereka lebih muda untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang” (Q.S al-Ahzab:59).

Itulah ayat yang menggabarkan pentingnya jilbab/hijab bukan hanya sebetas anjuran. Tujuan utama hijab adalah alat pengantisipasi datangnya gangguan bagi kaum hawa. Selain itu, hijab merupakan simbolis identitas sosial, kehormatan dan harga diri yang sangat diperjuangkan pelajar wanita masa kini, untuk menghadapi masa depan esok. Sebab sebagian pelajar wanita kehilangan masa depan, karena masalah seksual. Akibat gaya hidup berpakaian yang menyepelekan dan mempergunakan hijab sebatas “formalitas” (keterpaksaan) saja. Keterangan tadi adalah bukti konkrit bahwa islam agama moderat berlandasan rasionalitas dengan latar belakang alasan logis.

Dalam kehidupan berbangsa, pelajar wanita memiliki dua peran penting. Yang pertama, sebagai pelajar. Yaitu ‘agent of feature’ yang mencakup agent of moral, agent of change dan agent-agent lainnya. Artinya nasib suatu bangsa esok bergantung pada sikap generasi muda saat ini. Bahkan mantan presidan Ir. Soekarno mengungkapkan gambaran kehebatan generasi muda. “berilah aku sepulu pemuda, maka aku akan mengubah dunia”. Justru yang terjadi saat ini, sepuluh pemuda malah membentuk boyband dan girlband. Khususnya wanita malah memperlihatkan aurat tanpa malu dan berhijab tidak sesuai syariat alias sebatas hiasan. Maka munculah pelecehan seksual dimana-mana dan hancurlah negeri ini.

Kedua, sebagai wanita. Yaitu tiang negara seperti yang telah dijelaskan dalam hadits : “Wanita adalah tiang Negara. Jika rusak, maka Negara juga akan rusak dan jika baik, maka Negara juga akan baik”. Wanita yang baik adalah wanita yang bisa menjaga dan menghargai dirinya sendiri. Maksudnya, menjaga aurat dan menghargai dirinya sebagai wanita.

Ironisnya, siswi sekolah negeri, swasta islam dan pesantren sekalipun, cenderung membully hijab. Di sekolah negeri, siswi berhijab terkesan dikucilkan teman maupun pihak sekolah. Hal ini memunculkan sikap lepas-pakai hijab oleh siswi. Mereka takut sekaligus tidak PD (percaya diri) menjalankan kewajibannya. Sementara di sekolah islam maupun pesantren yang telah mewajibkan siswi berhijab. Siswi malah mengumpat peraturan tersebut. Missal, memendekkan hijab yang telah ditetapkan madrasah atau pesantren dan memosting foto tanpa di jejaring sosial. Inilah yang disebut munafik! Mereka berjanji dan melaksanakan kewajiban berhijab di sekolah. Namun, di luar kegiatan formal mereka berkhianat dan berdusta dengan melepas hijab tanpa malu atas kemunafikannya. Bukannya bersyukur, sebab Allah SWT telah mempermudah melaksanakan kewajiban.

Cobalah kita lihat kebelakang! Berkibarnya hijab di bumi pertiwi telah melewati sejarah luka yang panjang dan lama. Sekitar tahun 1980an, ribuan mahasiswi dan pelajar berhijab membanjiri jalanan di berbagai kota besar. Mereka memprotes keputusan yang melarang hijab di sekolah. Revolusi jilbab/hijab di Indonesia bermula tahun 1979. Siswi-siswi berkerudung di SPG Negeri Bandung hendak dipisahkan pada lokal khusus. Mereka langsung memberontak atas perlakuan diskriminasi terhadap jilbabnya. Ketua MUI Jawa Barat turun tangan hingga pemisahan itu berhasil digagalkan. Ini adalah kasus awal dari rentetan panjang sejarah hijab di bumi persada.

Selanjutnya tanggal 17 Maret 1982 keluar SK 052/C/Kep/D.82 tentang seragam sekolah nasional oleh Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Darji Darmodiharjo, S. H. Pelaksanaan terhadap surat keputusan itu malah berujung pada larangan terhadap hijab. Maka meledaklah demo barisan pembela hijab di seantero Indonesia. Ketika itu tengah gencar-gencarnya penggusuran jilbaber dari bangku pelajaran. Para muslimah terpaksa hengkang dari studi demi konsisten menjalankan syariat. Mereka yang diusir dari sekolah, bahkan menggelar perkara ini sampai ke pengadilan.

Belum reda perjuangan jilbab di sekolah-sekolah, muncul fitnah baru di penghujung 1989. Hijab penebar racun! Seorang wanita diserang tiba-tiba, diteriaki dan dituduh penebar racun. Orang-orang yang tersulut emosi langsung merajam wanita itu hingga hampir meninggal dunia. Para muslimah menjadi takut keluar rumah. Hingga kembali digelar tabligh akbar lautan pendukung jilbab. Korban demi korban terus berjatuhan tetapi semangat berbusana takwa makin berkobar hebat. Akhirnya, kebenaran tidak bisa lagi dihempang, aturan Tuhanlah yang maha benar. Unjuk rasa, protes, demonstrasi dan dialog intensif serta jalur hukum sampailah di saat yang berbahagia. Seiring keluarnya SK Dirjen Dikdarmen No. 100/C/Kep/D/1991 hijab lengkap dengan busana menutup auratnya dinyatakan ‘halal’ masuk sekolah.

Perjuangan di atas tak lepas dari harapan kiprahnya hijab saat ini. Karna itulah sebagai wanita muslim harus sadar akan kewajiban menjalankan syariat. Sebab hijab memiliki tujuan pasti, alasan logis, dan latar belakang konsisten (khususnya Indonesia). Hijab bukan memperburuk mahkota kepala (rambut), tapi menjaga keelokannya. Umpama sepotong roti mahal yang tersimpan rapi di etalase. Semua orang tahu roti dalam etalase mahal dan terhormat, sehingga tidak ada yang berani menyentuh kecuali pembeli pasti. Sementara, hijab bagi wanita adalah pelindung kehormatan diri, sehingga tidak ada yang berani mengganggu kecuali orang yang telah menjadi mahramnya.

Manfaat ilmiah hijab telah dibuktikan bebagai Negara muslim. Penelitian menyebutkan hijab dapat meningkatkan kemampuan dan kesehatan kaum hawa. Sayangnya, manfaat di atas tidak berlaku bagi wanita lepas-pakai hijab atau berhijab namun tidak sesuai syariat. Karena remaja wanita yang menggunakan hijab lepas-pakai, hatinya dipenuhi kegundahan dan keraguan alias galau. Sedangkan berhijab yang tidak sesuai syariat lebih menarik perhatian lawan jenis dibandingkan orang yang tidak berhijab. Lalu apa gunanya malu atau gengsi menggunakan hijab? Kalaupun masih merasa malu atau tidak PD (percaya diri) cobalah gabung diperkumpulan hijabbers. Selain mendapatkan banyak teman kita bisa saling berbagi ilmu mengenai mode  hijab. Bagi pengagum mode, hijab ‘formalitas’ dianggap klasifikasi gaya era masa lalu.

Kesimpulannya, pemakaian hijab tergantung pada niat kita masing-masing. Ubahlah lingkungan yang tidak mendukung, menjadi antusias pada hijab. Gunakan kepercayaan diri, sehingga semua orang akan mengganggap hijab pilihan yang tepat dan sangat konsisten

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s