filsafat ilmu

Posted: 10 June 2013 in materi

7065_544231395622437_1175936804_n

1. Berikan suatu contoh kasus yang berkaitan dengan dampak langsung dan yang tidak langsung ilmu pengetahuan/sains terhadap lifeworld berkaitan dengan kehidupan religious masyarakat kita?

Dampak Intelektual Dalam Kehidupan Sosial

Penelitian antropologi membuat kita sadar akan banyaknya kepercayaan tak berdasar yang mempengaruhi kehidupan masyarakat tradisional. Penyakit dianggap berkaitan dengan sihir, panen gagal dianggap kerena dewa marah atau ulah setan jahat. Pengorbanan manusia kadang-kadang dianggap sebagai jaminan untuk menang perang dan kesuburan tanah. Masih banyak kepercayaan tradisional yang bisa disampaikan dalam studi antropologo. Itu semua menandakan bahwa manusia membutuhkan waktu sangat lama untuk mengubah cara pandang itu.

Semua kepercayaan di atas telah lenyap. Selain alasan perikemanusiaan (bandingkan cerita di sekitar Abraham yang ingin membunuh anaknya tetapi tidak jadi), ilmu pengetahuan boleh dilihat sebagai salah satu faktor paling menentukan. Satu persatu gejala-gejala alam diterangkan dengan ilmu pengetahuan. Gejala alam pertama yang melepaskan diri dari cengkraman takhayul dan diterangkan dengan ilmu pengetahuan adalah gerhana (Thukydides). Begitu juga dengan masalah komet, yang sebelumnya dilihat sebagai bukti kemurkaan Tuhan atau tanda nasib buruk seseorang, sekarang mulai diterangkan dengan hukum gravitasi. Kalau kita lihat bagaimana dunia kedokteran harus bergulat melawan kepercayaan-kepercayaan tradisional baik yang sungguh-sungguh takhayul maupun yang didukung kuat oleh moralitas agama yang sempit, mulai dari masalah penyakit (demam) malaria sampai pada masalah transplatasi jantung.

Dampak ilmu pengetahuan terhadap lifeworld ada dua, yaitu dampak intelektual langsung terutama tentang perubahan cara pandang tradisional terhadap realitas; dampak tidak langsung melalui mediasi teknik-teknik ilmiah terutama teknik-teknik produksi dan organisasi sosial.

Maka sebagai sistem berfikir rasional, ilmu pengetahuan menjadi sebab terdalam dari lenyapnya banyak kepercayaan tradisional. Secara umum, dapat dikatakan 4 hal baru dari ilmu pengetahuan yang menyebabkan lenyapnya kepercayaan-kepercayaan tradisional. Hal baru dari ilmu pengetahuan yang menyebabkan lenyapnya kepercayaan-kepercayaan tradisional :

1. Pengamatan Lawan Otoritas.

2. Otonomi Dunia Fisik.

3. Disingkirkannya Konsep Tujuan.

4. Tempat Manusia dalam Alam.

Persoalan mengenai dampak ilmu pengetahuan atas lifeworld merupakan suatu persoalan lama. Dunia ilmu pengetahuan merupakan dunia fakta, sedangkan lifeworld mencakup pengalaman subjektif yang praktis. Apakah dengan munculnya ilmu pengetahuan manusia modern dengan sendirinya menggunakan simbol-simbol ilmu pengetahuan menggantikan simbol-simbol yang sudah lama berakar kuat dalam tradisi. Ilmu pengetahuan merupakan produk dari kebudayaan enlightenment (pencerahan). Penelitian antropologi membuat kita sadar banyaknya kepercayaan tidak berdasar yang memengaruhi kehidupan masyarakat tradisional.

Hal tersebut menandakan bahwa manusia membutuhkan waktu sangat lamauntuk mencapai atau mengubah cara pandang tersebut. Ilmu pengetahuan dilihat sebagai salah satu factor yang paling menentukan. Satu persatu gejala alam diterangkan dalam ilmu pengetahuan. Maka sebagai sistem berpikir rasional, ilmu pengetahuan menjadi sebab terdalam dari lenyapnya banyak kepercayaan tradisional. Secara umum dapat dikatakan 4 hal baru dari ilmu pengetahuan yang menyebabkan lenyapnya kepercayaan tradisional, yakni sebagai berikut : (i) pengamatan lawan otoritas; (ii) otonomi dunia fisik; (iii) disingkatnya konsep tujuan dan (iv) tempat manusia dalam alam.

Pertama, pengamatan lawan otoritas. Ilmu pengetahuan tidak didasarkan pada otoritas melainkan pada pengamatan. Ilmu pengetahuan merintis jalan kepada kemandirian dalam berpikir berdasarkan pada pengamatan terhadap gejala-gejala alam atau sosial. Tentu harus diakui disini bahwa sikap menghargai pengamatan, sebagai lawan tradisi dan otoritas, adalah sesuatu yang sulit. Ilmu pengetahuan menuntut agar orang tidak mudah percaya begitu saja pada tradisi atau otoritas tetapi percaya pada pengamatan dengan teknik-teknik yang rasional.

Kedua, otonomi dunia fisik. Bahwa ilmu pengetahuan berangkat dari suatu filosofi alam sebagai sesuatu yang otonom, yang memiliki hukum sendiri. Dunia fisik mengikuti hukum-hukum fisika, tidak ada pengaruh roh-roh halus. Peranan dewa-dewi sebagaimana dianut oleh banyak agama tradisional lenyap dengan sendirinya jika ilmu pengetahuan diterima secara konsekuen.

Ketiga, disingkatnya konsep tujuan. Bahwa ilmu pengetahuan hanya mengenal sebab efisien dari suatu peristiwa. Bagi ilmu pengetahuan masa lampau lebih penting dari masa depan. Sebab final tidak diberi tempat dalam pandangan ilmiah tentang dunia. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan lebih memerhatikan konsep kausalitas dibandingkan dengan konsep formalitas. Masyarakat yang dicerahi ilmu pengetahuan lebih percaya pada Darwinisme.

Keempat, tempat manusia dalam alam. Dari segi kontemplasi tampaknya ilmu pengetahuan merendahkan manusia. Namun, dari segi praktis ilmu pengetahuan dapat mengangkat manusia, justru karena dengan ilmu pengetahuan manusia dapat memeroleh kekuasaan dan dapat berbuat banyak. Kekuasaan dapat diperoleh manusia dengan memahami hukum-hukum alam.

Ilmu pengetahuan membantu proses emansipasi manusia terhadap dewa-dewi trdisional dan Tuhan Allah. Ilmu pengetahuan membangun suatu rasionalitas yang berbeda dari rasionalitas kepercayaan-kepercayaan tradisional dan agama.

Dampak ilmu pengetahuan terhadap cara berpikir manusia dan masyarakat dewasa ini sungguh dahsyat. Rasionalitas ilmu pengetahuan ini tidak hanya mengubah cara pandang tradisional kita, tetapi juga teologi yang terlalu teosentris. Ilmu pengetahuan membantu proses emansipansi manusia terhadap dewa-dewi tradisional dan Tuhan Allahnya deisme (pandangan yang menegaskan bahwa hanya Tuhan Allah yang memecahkan seluruh problem kehidupan manusia). Ilmu pengetahuan membangun suatu rasionalitas yang berbeda dari rasionalitas kepercayaan-kepercayaan tradisional dan agama itu.

2. Apakah pengertian sintesis bebas nilai dan sintesis tidak bebas nilai berkaitan denga ilmu pegetahuan? Buat contohnya dalam bentuk kasus si bidang teknologi informasi.

Pengertian Bebas Nilai

Bebas nilai adalah tuntutan yang ditujukan kepada ilmu pengetahuan agar ilmu pengetahuan dikembangkan dengan tidak memperhatikan nilai-nilai lain di luar pengetahuan.

Tuntutan dasarnya adalah agar ilmu pengetahuan dikembangkan hanya demi ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuan tidak boleh dikembangkan dengan didasarkan pada pertimbangan lain di luar ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan harus dikembangkan hanya semata-mata berdasarkan pertimbangan ilmiah murni.

Maksud dasar dari tuntutan ini adalah selama ilmu pengetahuan tunduk pada pertimbangan lain di luar ilmu pengetahuan, baik itu pertimbangan politik, religius, maupun moral, ilmu pengetahuan tidak bisa berkembang secara otonom. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan kalah terhadap pertimbangan lain dan dengan demikian ilmu pengetahuan menjadi tidak murni sama sekali.

Yang mau diwujudkan dengan tuntutan bebas nilai adalah tuntutan agar ilmu pengetahuan dikembangkan hanya demi kebenaran saja dan tidak perlu tunduk kepada nilai dan pertimbangan lain di luar ilmu pengetahuan.

Latar belakangnya adalah kekhawatiran bahwa kebenaran sangat mungkin dikorbankan demi nilai lain. Kalau ilmu pengetahuan harus tunduk kepada kekuasaan pemerintah, hanya demi menjaga keutuhan masyarakat misalnya, ada bahaya bahwa kebenaran dikorbankan. Ada bahaya bahwa kita terpaksa berbohong demi menjaga keutuhan masyarakat. Demikian pula, kalau ilmu pengetahuan harus tunduk kepada nilai-nilai religius dan moral, ada bahaya yang sangat besar bahwa kebenaran dikalahkan demi menjaga keluhuran nilai religius dan moral itu. Akibatnya, kita tidak pernah sampai pada kebenaran ilmiah yang objektif dan rasional. Ilmu pengetahuan lalu berubah menjadi ideologi yang hanya berfungsi untuk melayani pihak tertentu dan demi itu rela mengorbankan kebenaran.

Kecenderungan Puritan-elitis

Tujuan akhir dari ilmu pengetahuan adalah untuk mencari dan menemukan penjelasan, yaitu penjelasan yang benar tentang segala sesuatu. Tetapi bagi kaum puritan-elitis, kebenaran ilmiah dari penjelasan ini hanya dipertahankan demi kebenaran murni begitu saja, terutama hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu manusia. Maka, ilmu pengetahuan bagi mereka dikembangkan hanya demi ilmu pengetahuan.

Kepuasan seorang ilmuwan terletak dalam menemukan teori-teori besar yang mampu menjelaskan segala persoalan, teka-teki dan gejala alam ini, terlepas dari apakah ilmu pengetahuan itu berguna atau tidak bagi kehidupan praktis manusia. Oleh karena itu, bagi kecenderungan puritan dan elitis, pembicaraan mengenai link and match tidak kena. Tidak ada yang disebut link and match karena ilmu pengetahuan memang hanya bertujuan untuk mencapai penjelasan dan pemahaman tentang masalah-masalah dalam alam ini. Mereka tidak mempersoalkan aplikasinya bagi kehidupan konkret.

Konsekuensinya, ilmu pengetahuan menjadi bidang yang sangat elitis. Ilmu pengetahuan lalu menjadi sesuatu yang mewah, jauh dari kehidupan real manusia.

Posisi dasar dari kecenderungan puritan-elitis adalah bahwa ilmu harus bebas nilai. Ilmu pengetahuan harus lepas dari segala pertimbangan lain di luar ilmu pengetahuan, termasuk pertimbangan nilai guna dari pengetahuan. Kebenaran harus ditegakkan apapun konsekuensinya dan kegunaan praktis dari ilmu pengetahuan. Karena, tujuan dari ilmu pengetahuan adalah menemukan kebenaran, menemukan penjelasan objektif tentang segala sesuatu. Untuk itu, ilmu tidak boleh tunduk pada otoritas lain di luar ilmu pengetahuan.

Bagi kecenderungan puritan-elitis, ilmu pengetahuan mempunyai otonomi yang mutlak. Ilmu pengetahuan tidak boleh kalah dan mengalah terhadap terhadap pertimbangan lain di luar ilmu pengetahuan. Supaya ilmu pengetahuan bisa sampai pada kebenaran objektif, ilmu pengetahuan harus dibebaskan dari segala macam nilai dan pertimbangan lain di luar ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan harus dibebaskan dari tujuan kemanusiaan, kebahagiaan dan keselamatan bagi manusia karena selama ilmu pengetahuan dikembangkan demi membantu manusia, demi memecahkan berbagai persoalan hidup manusia, kebenaran bisa dikalahkan oleh pertimbangan lain tersebut.

Contoh, kasus tambang emas Busang di Kalimantan beberapa tahun lalu, memperlihatkan dengan jelas kesalahan ini : Demi meningkatkan nilai saham Bre-X (perusahaan pemilik tambang emas Busang), di pasar saham dunia, perusahaan itu tega mengorbankan kebenaran ilmiah dengan melaporkan kebohongan bahwa mereka telah menemukan, dalam penelitian ilmiah yang mereka lakukan, jutaan ons emas di Busang Kalimantan.

Pengertian Tidak Bebas Nilai

Berbeda dengan kecenderungan puritan-elitis, bagi kecenderungan pragmatis ilmu pengetahuan tidak bisa bebas nilai. Ilmu pengetahuan terbebani dengan nilai. Ilmu pengetahuan, karena punya kecenderungan pragmatis yang kuat, diliputi oleh nilai; ilmu pengetahuan mau tidak mau peduli atas persoalan penderitaan manusia, ia peduli akan keselamatan manusia, akan harkat dan martabat manusia.

Dalam context of discovery ilmu pengetahuan tidak bebas nilai. Tetapi, dalam context of justification, ilmu pengetahuan harus bebas nilai.

Tujuan dari pembedaan ini adalah untuk melindungi objektivitas dari hasil akhir kegiatan ilmiah. Yaitu, kendati dalam proses penemuan sebuah hukum ilmiah atau teori ada berbagai nilai, faktor dan pertimbangan ekstra ilmiah yang ikut menentukan, ketika sampai pada tahap pengujiannya, kebenaran hukum atau teori itu tidak boleh ditentukan oleh faktor di luar ilmu pengetahuan.

Pertanyaan relevan yang menggelitik adalah: Bagaimana dengan hasil penelitian yang telah terbukti kebenarannya berdasarkan kriteria ilmiah murni, tetapi, ternyata dianggap bertentangan dengan nilai moral religius tertentu?

Contohnya adalah cloning. Dari segi context of justification, dari segi kriteria kebenarannya tidak bisa dibantah. Dari segi ilmiah hasil ini tidak bisa ditolak, sah secara ilmiah. Tetapi, dari segi context of discovery, pertanyaannya adalah apakah hasil ilmu pengetahuan tersebut berguna? Kalau ternyata tidak berguna, kalau ternyata merendahkan martabat manusia, hasil tersebut perlu ditolak. Tetapi, ditolaknya hasil ini bukan karena tidak benar, melainkan karena tidak ada gunanya bagi hidup manusia. Pada titik ini, ilmuwan yang punya perasaan moral, dipersilahkan untuk memutuskan sendiri apakah ia akan tetap mengembangkan ilmunya yang merugikan masyarakat itu, kendati benar atau justru menghentikannya.

3. Apakah teori itu? Apakah hukum ilmiah itu? Berdasarkan suatu hukum ilmiah, ilmuan akan mempergunakan sabagai dasar suatu rekayasa sosial. Berikan contohnya yang relefan dengan disiplin ilmu hukum? Sedangkan suatu teori ilmiah dipakai sebagai referensi untuk menjelaskan/menerangkan suatu fenomena sosial dalam kehidupan sehari-hari. Berkaitan dengan ini, berikan pula contohnya.

Teori adalah serangkaian bagian atau variabel, definisi dan dalil yang saling berhubungan yang menghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai fenomena dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan maksud menjelaskan fenomena alamiah. Labovitz dan Hagedorn mendefinisikan teori sebagai ide pemikiran “pemikiran teoritis” yang mereka definisikan sebagai “menentukan” bagaimana dan mengapa variable-variabel dan pernyataan hubungan dapat saling berhubungan.

Kata teori memiliki arti yang berbeda-beda pada bidang-bidang pengetahuan yang berbeda pula tergantung pada metodologi dan konteks diskusi. Secara umum, teori merupakan analisis hubungan antara fakta yang satu dengan fakta yang lain pada sekumpulan fakta-fakta. Selain itu, berbeda dengan teorema, pernyataan teori umumnya hanya diterima secara "sementara" dan bukan merupakan pernyataan akhir yang konklusif. Hal ini mengindikasikan bahwa teori berasal dari penarikan kesimpulan yang memiliki potensi kesalahan, berbeda dengan penarikan kesimpulan pada pembuktian matematika.

Hukum sains adalah suatu pernyataan di dalam dunia ilmu pengetahuan yang bermula dari suatu hipotesis dan dibuktikan dengan percobaan-percobaan yang menyangkut teori-teori hipotesis. Hasil percobaan dapat mendukung teori hipotesis dan dapat membuktikan kebenarannya teori hipotesis tersebut.

Suatu hukum ilmiah, ilmuan akan mempergunakan sabagai dasar suatu rekayasa sosial. Berikan contohnya yang relefan dengan disiplin ilmu hukum.

Selanjutnya yang menjadi obyek utama kajian sosiologi hukum sebagaimana dikemukakan oleh Achmad Ali (1998: 19-32), sebagai berikut :

1. Menurut istilah Donald Black (1976: 2-4) dalam mengkaji hukum sebagai Government Social Control, sosiologi hukum mengkaji hukum sebagai perangkat kaidah khusus yang berlaku serta dibutuhkan guna menegakkan ketertiban dalam suatu kehidupan masyarakat. Hukum dipandang sebagai rujukan yang akan digunakan oleh pemerintah dalam hal, melakukan pengendalian terhadap perilaku warga masyarakat.

2. Persoalan pengendalian sosial tersebut oleh sosiologi hukum dikaji dalam kaitannya dengan sosialisasi yaitu proses dalam pembentukan masyarakat. Sebagai makhluk sosial yang menyadari eksistensi sebagai kaidah sosial yang ada dalam masyarakatnya, yang meliputi kaidah moral, agama dan kaidah sosial lainnya. Dengan kesadaran tersebut diharapkan warga masyarakat menaatinya, berkaitan dengan itu maka tampaklah bahwa sosiologi hukum, cenderung memandang sosialisasi sebagai suatu proses yang mendahului dan menjadi prakondisi sehingga memungkinkan pengendalian sosial dilaksanakan secara efektif.

3. Obyek utama sosiologi hukum lainnya adalah stratifikasi. Stratifikasi sebagai obyek yang membahas sosiologi hukum bukanalah stratifikasi hukum seperti yang dikemukakan oleh Hans Kelsen dengan teori grundnormnya, melainkan stratifikasi yang dikemukakan dalam suatu sistem kemasyarakatan. Dalam hal ini dapat dibahas bagaimana dampak adanya strstifikasi sosial terhadap hukum dan pelaksana hukum.

4. Obyek utama lain dari kajian sosiologi hukum adalah pembahasan tentang perubahan, dalam hal ini mencakup perubahan hukum dan perubahan masyarakat serta hubungan timbal balik diantara keduanya. Salah satu persepsi penting dalam kajian sosiologi hukum adalah bahwa perubahan yang terjadi dalam masyarakat dapat direkayasa, dalam arti direncanakan terlebih dahulu oleh pemerintah dengan menggunakan perangkat hukum sebagai alatnya.

Berdasarkan fenomena yang telah diuraikan di atas maka lahirlah konsep law as a tool of social engineering yang berati bahwa hukum sebagai alat untuk mengubah secara sadar masyarakat atau hukum sebagai alat rekayasa sosial. Oleh karena itu, dalam upaya menggunakan hukum sebagai alat rekayasa sosial diupayakan pengoptimalan efektifitas hukumpun menjadi salah satu topik bahasan sosiologi hukum (Achmad Ali, 1998: 98-103).

Jadi fungsi hukum itu pasif, yaitu mempertahankan status quo sebagai a tool of social control, sebaliknya hukum pun dapat berfungsi aktif sebagai a tool of social engineering. Oleh karena itu, penggunaan hukum sebagai alat rekayasa sosial didominasi oleh kekuasaan negara. Apabila kajian sosiologi hukum tentang bagaimana fungsi hukum, sebagai alat pengendalian sosial lebih banyak mengacu pada konsep-konsep antropologis, sebaliknya kajian sosiologi hukum tentang fungsi hukum sebagai alat rekayasa sosial lebih banyak mengacu pada konsep ilmu politik dan pemerintah.

Suatu teori ilmiah dipakai sebagai referensi untuk menjelaskan/menerangkan suatu fenomena sosial dalam kehidupan sehari-hari. Berkaitan dengan ini, berikan pula contohnya

Dalam ilmu pengetahuan, teori dalam ilmu pengetahuan berarti model atau kerangka pikiran yang menjelaskan fenomena alami atau fenomena sosial tertentu. Teori dirumuskan, dikembangkan dan dievaluasi menurut metode ilmiah. Teori juga merupakan suatu hipotesis yang telah terbukti kebenarannya. Manusia membangun teori untuk menjelaskan, meramalkan dan menguasai fenomena tertentu (misalnya, benda-benda mati, kejadian-kejadian di alam atau tingkah laku hewan). Sering kali, teori dipandang sebagai suatu model atas kenyataan (misalnya : apabila kucing mengeong berarti minta makan). Sebuah teori membentuk generalisasi atas banyak pengamatan dan terdiri atas kumpulan ide yang koheren dan saling berkaitan.

Istilah teoritis dapat digunakan untuk menjelaskan sesuatu yang diramalkan oleh suatu teori namun belum pernah terpengamatan. Sebagai contoh, sampai dengan akhir-akhir ini, lubang hitam dikategorikan sebagai teoritis karena diramalkan menurut teori relativitas umum tetapi belum pernah teramati di alam. Terdapat miskonsepsi yang menyatakan apabila sebuah teori ilmiah telah mendapatkan cukup bukti dan telah teruji oleh para peneliti lain tingkatannya akan menjadi hukum ilmiah. Hal ini tidaklah benar karena definisi hukum ilmiah dan teori ilmiah itu berbeda. Teori akan tetap menjadi teori dan hukum akan tetap menjadi hukum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s